Evolusi YouTube sebagai mitra pembelajaran di Indonesia

29 Jan 2026

|

Lewat AKSI Digital (Anak & Keluarga Sigap Digital), Google & YouTube gandeng pakar serta Pemprov DKI Jakarta untuk latih 2.500 guru BK. Inisiatif ini meluncurkan Buku Panduan Kesejahteraan Digital demi dukung kesehatan mental remaja Indonesia.


Leslie Miller

VP of Government Affairs & Public Policy, YouTube


Orang - orang di atas panggung

Peluncuran AKSI Digital

Bagi generasi muda Indonesia, YouTube telah berevolusi menjadi ruang kelas digital—sebuah pilar berkualitas tinggi dalam ekosistem pembelajaran nasional. Perubahan ini terlihat jelas di ruang kelas: 96% guru yang menggunakan YouTube di Indonesia memasukkan konten tersebut ke dalam pelajaran atau tugas sekolah 1 . Hal ini menandakan adanya pergeseran pedagogis dalam cara generasi berikutnya belajar.

Yang tak kalah penting, banyak guru mengandalkan YouTube untuk menjelaskan konsep-konsep yang sulit menjadi lebih mudah. Faktanya, 82% guru yang menggunakan YouTube setuju bahwa platform ini membantu menjelaskan masalah kompleks dengan cara yang mudah dipahami oleh 2 .

Mengedepankan kesejahteraan digital

Seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi di ruang kelas, muncul tanggung jawab besar untuk mendukung mereka yang menjadi jantung pendidikan: para pendidik. Kami menyadari bahwa mendukung pendidik berarti lebih dari sekadar memberikan akses ke perpustakaan konten edukatif yang luas, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan untuk menavigasi dan berkembang di era digital.

Itulah sebabnya kami berinvestasi dalam kemitraan yang bermakna untuk mendukung kesehatan holistik pemuda Indonesia. Kami bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan Universitas Indonesia untuk mengembangkan sumber daya kesejahteraan digital yang komprehensif bagi remaja, guru, dan orang tua.

Sumber daya yang sama juga akan digunakan untuk melatih sekitar 2.500 guru Bimbingan Konseling (BK) dalam program percontohan yang kami luncurkan bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Program ini bertujuan untuk membekali mereka dengan keterampilan yang tepat guna mendukung kesehatan mental remaja setempat.

Fokus kami pada kesejahteraan tidak hanya berhenti di ruang kelas tetapi juga meluas ke rumah, di mana kami terus berinvestasi dalam berbagai perangkat yang dibutuhkan orang tua untuk menetapkan batasan yang sehat.

Baru-baru ini, kami mengumumkan fitur pengatur waktu (timer) Shorts pertama di industri yang memberikan kendali penuh kepada orang tua. Baik itu menetapkan batas waktu ke angka nol selama minggu ujian atau mengizinkan hiburan selama 30 menit di akhir pekan, kini orang tua dapat menyesuaikan kebiasaan digital anak secara real-time. Orang tua juga dapat mengatur pengingat waktu tidur (Bedtime) dan waktu istirahat (Take a Break) secara khusus. Kami juga telah memperluas fitur School time pada Family Link ke lebih banyak perangkat, membantu orang tua membatasi gangguan dan menciptakan lingkungan belajar yang fokus.

Dampak dari upaya gabungan ini sangat nyata: investasi kami membuahkan kepercayaan bagi keluarga. Sebanyak 92% orang tua yang menggunakan fitur akun YouTube yang diawasi setuju bahwa fitur-fitur ini memberikan lingkungan digital yang lebih aman dan terkendali bagi anak-anak 3 .

Revolusi pendidikan di YouTube

Landasan kepercayaan inilah yang membuat 89% orang tua setuju bahwa anak-anak mereka mendapatkan manfaat dari penggunaan YouTube untuk tujuan pembelajaran atau 4 . Ini bukan sekadar tren sesaat; mulai dari melengkapi tugas sekolah hingga mempelajari keterampilan karier praktis, orang tua mengakui peran YouTube sebagai perpanjangan tangan dari ruang kelas yang mudah diakses. Bahkan, 92% orang tua setuju bahwa YouTube membantu membuat pembelajaran menjadi lebih inklusif bagi anak-anak.

Keragaman konten edukatif ini didorong oleh hadirnya para edukreator, sebuah kelas baru yang terdiri dari guru sekaligus konten kreator yang mengubah lanskap pendidikan daring. Untuk mendukung mereka, Akademi Edukreator yang kami luncurkan melalui kolaborasi dengan Kok Bisa dan Senyawa+ telah melatih lebih dari 4.000 kreator dan guru dari 34 provinsi sejak tahun 2020. Tahun lalu, 568 lulusan baru bergabung, memperoleh keterampilan baru dalam pembuatan konten dan pemanfaatan alat AI seperti Gemini untuk membangun ekosistem pendidikan digital yang aman, inklusif, dan berkualitas tinggi.

Mulai dari Mr. Klik, seorang guru sains yang mengubah setiap pelajaran menjadi petualangan, hingga kejarcita, yang memproduksi konten yang selaras dengan kurikulum nasional; para edukreator Indonesia menjadikan bimbingan belajar kelas dunia sebagai hak bagi setiap siswa, bukan hak istimewa bagi segelintir orang saja. Baik anak yang berada di desa terpencil maupun di jantung kota Jakarta, YouTube memastikan mereka semua mendapatkan kursi di barisan depan.

Komitmen bersama untuk belajar

Kami tetap berkomitmen penuh untuk berinvestasi dalam lingkungan belajar yang aman dan mudah diakses. Dengan bekerja bahu-membahu bersama para pendidik, orang tua, dan mitra lokal, kami bertujuan untuk memberdayakan generasi Indonesia berikutnya dengan pengetahuan dan literasi digital yang mereka butuhkan untuk berkembang.

1

96% guru di Indonesia yang menggunakan YouTube melaporkan bahwa mereka telah memanfaatkan konten YouTube dalam kegiatan pembelajaran dan/atau penugasan. Sumber: Oxford Economics Impact Report, Indonesia, 2024.

2

82% guru yang menggunakan YouTube menyatakan bahwa video YouTube membantu menjelaskan isu-isu kompleks dengan cara yang dapat dipahami oleh siswa. Sumber: Oxford Economics Impact Report, Indonesia, 2024.

3

Sebanyak 92% responden survei yang merupakan orang tua dari anak berusia 10–17 tahun dan telah menggunakan fitur akun diawasi YouTube menyatakan setuju bahwa fitur pengawasan YouTube memberikan rasa percaya diri bahwa anak mereka mengakses lingkungan digital yang lebih aman dan terkendali. Sumber: Ipsos survey, Indonesia, August 2025.

4

Sebanyak 89% responden survei yang merupakan orang tua dari anak berusia 2–17 tahun yang menggunakan YouTube menyatakan setuju bahwa anak mereka memperoleh manfaat dari penggunaan YouTube untuk pembelajaran dan/atau tujuan edukasi. Sumber: Ipsos survey, Indonesia, August 2025.